Penulis: Prasasta Widiadi, 10:05 WIB | Jumat, 14 November 2014

GUNUNGSITOLI, SATUHARAPAN.COM – Frenki Tampubolon, Sekretaris Eksekutif Departemen Pemuda dan Remaja (Depera) Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mengimbau para pemuda diharap aktif berkampanye penanggulangan kerusakan lingkungan hidup.

“Kami berharap gereja memberi perhatian terhadap lingkungan, salah satunya yakni melalui penguatan muatan lokal tentang pemeliharaan Lingkungan hidup dalam Bahan Ajar dan Pembinaan Remaja dan Pemuda Gereja Anggota PGI oleh Komisi Pemuda dan Remaja Sinode Anggota PGI dan PGIW,” kata Frenki pada Kamis (13/11) pada Sidang Raya XVI PGI (SR XVI PGI) yang berlangsung di Sekolah Tinggi Teologia Banua Niha Keriso Protestan (BNKP), Gunungsitoli, Kepulauan Nias.

Frenki menjelaskan hal tersebut saat memberi laporan tentang kinerja Depera dan memberi rekomendasi kepada PGI, Dia mengemukakan dalam menyikapi isu lingkungan, Depera PGI mengkomunikasikan kepada segenap aras gereja lainnya tentang Pencanangan Gerakan Indonesia Hijau di SR XVI PGI tahun 2014 “Indonesia tanpa Sampah Plastik” dalam seluruh event gereja di Sinode atau Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Wilayah (PGIW) yang menjadi anggota PGI.

Pada Rabu (12/11) dalam khotbah pagi di SR XVI PGI, Pdt. Nurcahaya Gea dari BNKP menyebut bahwa kerusakan ekologis terjadi karena keserakahan manusia, sehingga manusia harus meminta pertolongan Tuhan tentang pengendalian hawa nafsu dari Tuhan untuk mengajari manusia menjadi pribadi yang tidak serakah.

Ucha memberi contoh bahwa saat ini manusia harus memelihara seluruh alam raya sebagai sebuah sarana penting kemajuan bagi sebuah bangsa.

Ciptaan Tuhan adalah sebuah berkat karunia yang harus dipahami sebagai karya penciptaan yang ideal. “Memelihara ciptaan Tuhan menjadi amat baik sehingga menjadi seluruh ciptaannya,” kata Ucha.

Dalam advokasi tentang lingkungan lainnya, Depera PGI pernah melakukan advokasi tentang tata ruang Kabupaten, Kota, dan Provinsi yang dilakukan di berbagai wilayah gereja anggota PGI.

PGI melalui para pemudanya juga mendukung gerakan Indonesia Tanpa Sampah Plastik dalam seluruh kegiatan gereja di Sinode dan PGIW pada 2014 lalu.

Selain dalam bidang lingkungan Depera PGI juga memberi usulan lain kepada kegiatan periode 2014 hingga 2019 lainnya antara lain gereja harus memberi pendampingan kepada warga yang mengalami ketidakadilan, dan Depera PGI juga mengusulkan adanya Komisi Advokasi Hukum dan HAM pada 2015 mendatang.

Pada masalah pemberdayaan dan kreativitas pemuda di bidang kewirausahaan, Depera PGI melakukan upaya penjajakan kerjasama dengan berbagai kementerian atau lembaga setingkat.

“Pelatihan ini dibuat dengan tujuan membangun dan memberdayakan kreativitas pemuda dan remaja dalam kewirausahaan,” Frenki mengakhiri penjelasannya.

Editor : Bayu Probo

Penulis: Prasasta Widiadi, 21:29 WIB | Jumat, 14 November 2014

GUNUNGSITOLI, SATUHARAPAN.COM – Hendra Harefa, Ketua Komisi Perempuan Gereja BNKP Jemaat Hilihao mengatakan saat ini dia kesulitan untuk melakukan proses pemasaran hasil produk industri kreatifnya. Gereja ini merupakan salah satu dari sekian banyak gereja di Kepulauan Nias yang melaksanakan program Gereja Sahabat Alam dari PGI.

“Kami ada kenalan tetapi hanya saja itu, memang kami sama sekali nggak ada tempat pemasaran khusus itu saja tidak ada satu toko,” kata Hendra Harefa kepada satuharapan.com, Jumat (14/11), di Gunungsitoli.

Gereja Sahabat Alam (GSA) merupakan salah satu program yang dirintis bagian Martiuria PGI yang bertujuan mengajak seluruh warga gereja dan masyarakat umumnya untuk tiba pada perubahan perilaku, tidak lagi sebatas wacana dan diskursus, dalam memperlakukan alam semesta ini secara bertanggung jawab.

Dalam mengimplementasi program ini, Bidang Marturia PGI bekerjasama dengan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH), dan STT Jakarta menyusun sebuah buku panduan yang memaparkan lebih detail tentang apa itu GSA, refleksi teologis yang mendasarinya, serba serbi aktivitas yang bisa dilakukan, dan lainnya.

Beberapa waktu lalu, Sekretaris Eksekutif Bidang Marturia PGI, Favor Bancin mengatakan Gereja Sahabat Alam adalah proses membuat seluruh jemaat semakin menyadari pentingnya lingkungan sekitar.

“Gereja Sahabat Alam ini nantinya ada yang memakai khotbah tata ibadah, tata pengajaran untuk anak sekolah minggu misalnya kita di dalam buku ini kita akan mengangkat tata ibadah hari bumi yang berdasar dari teman-teman kita yang melawan sebuah perusahaan yang merusak lingkungan,” kata Favor, kala itu.

Hendra Harefa mengatakan pihaknya tidak berhasil mendapat sarana yang tepat untuk memasarkan produk-produknya. Seluruh produk kreatif tersebut antara lain Kerajinan tas dompet, kerajinan dari kertas kertas majalah bekas terus ada sampah dari aqua gelas dijadikan bunga. Hendra Harefa juga menunjukkan dalam poster tentang kegiatan-kegiatan Komisi Perempuan Gereja Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) Jemaat Hilihao antara lain pembuatan pupuk kompos dari barang-barang bekas.

Kesulitan pemasaran juga dialami pelaku Gereja Sahabat Alam dari Gereja Angowuloa Fa’awosa kho Yesu (AFY) jemaat Desa Hilibadaluo, Aroziduhu Lombu.

“Pelatihan dari GSA ini penting dan kami berterima kasih untuk PGI, tetapi kami memang punya hasil produk kreatif seperti ini tetapi yang kami cari sekarang ini adalah kami cari pemasaran hasil dari warga jemaat,” kata Aroziduhu Lombu.

Akan tetapi salah satu yang beruntung adalah Milhati Harefa S.Th dari Sinode Gereja Angowuola Mahsehi Indonesia Nias (AMIN) yang mengatakan dia memiliki pengalaman memasarkan produk-produk seperti Kerajinan tas dompet, kerajinan dari kertas kertas majalah bekas terus ada sampah dari aqua gelas dijadikan bunga yang dia pasarkan saat penyelenggaraan Pertemuan Raya Perempuan Gereja (PrPrG) di Teluk Dalam mulai dari 5 – 8 November 2014 lalu.

“Generasi muda di jemaat kami memiliki kesadaran akan lingkungan apalagi mereka menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu memiliki nilai ekonomis pekerjaan ini mendapatkan uang,” kata Milhati Harefa.

Editor : Bayu Probo